Memetik Ibrah disebalik Drama
Drama
Malaysia Produksi Radius One yang disutradarai oleh Shahrulezad Mohammedin
merupakan drama berseri yang ditamatkan dalam 2 musim Ramadhan. Nur 1 dengan
jumlah 19 episode, Nur 2 berjumlah 15 Episode. NUR 1 telah ditayangkan di
Siaran TV3 Malaysia pada Bulan Ramadhan Tahun 2018 dan Nur 2 telah ditayangkan
Ramadhan 2019. namun Saya baru menontonnya di Bulan September 2019. Drama
yang dibintangi oleh Syafiq Kyle, Amirah Rosli, Datuk Jallaluddin Hasan , Fatimah Abu Bakar, NoorKhiriah, Azan Rani dan sederet bintang lainnya, menarik perhatian saya untuk turut memberikan
tanggapan saya tentang drama ini. Dari banyaknya drama Malaysia ,cerita Nur
memang mempunyai nilai tersendiri.
Sebagai
penonton , saya merasakan beberapa pesan yang ingin disampaikan oleh penulis
script, ide asal cerita dan sutradara. Banyak pesan yang disampaikan ,namun memang
menonton ini tidak bisa hanya menyimak sekedarnya, karena jika hanya
sekedar maka apa yang ingin disampaikan seperti nya tidak akan sesuai dengan
apa yang ada di pemikiran sutradara, penulis cerita drama ini.
Cerita
Nur tentang seorang wanita yang keluarga nya turun temurun bekerja sebagai
pekerja seks komersial (PSK). Dengan dokrin pemikiran' Siapapun yang telah
dilahirkan dilingkungan itu, maka sampai mati dia tidak akan bisa keluar dari
tempat itu.
beberapa
orang telah mereview drama ini , dan memang jalan cerita drama ini berat. mari
kita ulik bersama NUR part 1 dan ibrah yang bisa kita petik dari drama yang dinobatkan sebagai
drama berseri terbaik Anugerah Skrin 2018.
1. Hak Allah , Hak Hamba
Banyak
Manusia yang mengeklusifkan diri, mereka melabel sesama manusia, menghukumi
manusia lainnya. seolah- olah, yang patut menyembah Allah hanya orang-orang
yang '' suci'', orang-orang yang mereka lihat sebagai orang-orang berdosa tak
pantas untuk rukuk dan sujud pada Allah.
orang-orang
yang mengeklusifkan diri, melabel diri mereka adalah orang yang alim, orang
yang beriman, namun perilaku mereka tak menggambarkan bahwa mereka adalah
orang-orang yang beriman.
terlihat
dalam scene dialog Pakcik penggurus Masjid yang mengusir Nur ketika hendak
memasuki masjid, pakcik ini dengan mudahnya menghukumi Nur sebagai manusia
pendosa dan tak pantas berada di masjid.
Dari Mua’adz
bin Jabal r.a. ia berkata, "Saya pernah dibelakang Nabi SAW, di atas seekor
keledai lalu beliau bersabda : Hai Mu’adz apakah kamu mengerti hak Allah atas
hamba? dan apa hak hamba atas Allah? Saya berkata: Allah dan RasulNya lebih
mengerti. "Beliau bersabda: "Sesungguhnya hak Allah atas semua hamba ialah
hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu apapun denganNya.
Sedangkan hak hamba atas Allah tidak menyiksa siapa saja di antara mereka yang
tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya." (HR.Imam Muslim)
"Di antara kewajiban-kewajiban paling mendasar atas semua hamba adalah mengetahui persoalan tujuan ia diciptakan, yaitu beribadah kepada Allah swt. Allah menciptakan Makhluk Ini hanya agar beribadah kepadaNya sebagai mana Firman-Nya :
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan Manusia melainkan supaya beribadah Kepada-Ku."
(QS Adz-Dzariyat: 56)
hakikatnya apapun pekerjaan orang itu, dari
mana asalnya bagaimana kondisinya, selama ia bergelar makhluk Allah , maka ia
wajib rukuk dan sujud pada Allah, wajib beribadah. Nur
mengetahui hakikat ini, dan sadar betul siapa dirinya, hanya seorang hamba yang
hina, namun Nur tetap Rukuk dan Sujud
pada Allah.
''saya tak faham. mengapa saya dilahirkan
dalam keadaan seperti ini,dan saya bertambah tak faham ketika Allah memilih
saya mempunyai rasa cinta kepada Dia dalam keadaan saya yang hina seperti
ini''.(NUR)
2. Sikap Judgmental
Nur yang dihadiahkan ujian berupa kehidupan yang pelik, dilahirkan
dari kehidupan lorong gelap, dengan berbagai permasalahnnya. tidak seberuntung
Aisyah Yang dilahirkan dari keluarga terhormat dan bersarung keimanan. lantas
melihat ini apakah kita bisa melabel bahwa Nur adalah wanita hina, dan Aisyah
adalah wanita mulia??
Hendaknya seorang mukmin mengetahui
bahwasnya ketika Allah Ta’ala memberikan kelapangan pada seorang hmba
berupa nikmat harta, sehat, anak, dan kenikmatan lainnya bukan
merupakan bukti bahwa Allah meridhoi dan memberi kemuliaan kepada hamba tersebut.
Demikian pula kesempitan yang diperoleh seorang hamba berupa kekurangan harta,
musibah sakit, dan musibah lainnya tidak menunjukkan bahwa Allah tidak ridho
atau sedang menghinakan hamba tersebut. Ini merupakan persangkaan sebagian
manusia yang telah Allah nafikan dalam firman-Nya :
“Adapun
manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya
kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila
Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku
menghinakanku“
(Al-Fajr : 15-16).
Allah Ta’ala menafikan
persangkaan hamba-Nya tersebut dalam ayat selanjutnya dengan berfirman : { كَلَّا } (Sekali-kali
tidak demikian), maksudnya bahwa persangkaan mereka keliru dan tidak benar. Barangsiapa
yang Allah lapangkan baginya berupa harta, kesehatan, anak, dan kenikmatan
lainnya bukan merupakan bukti keridhoan Allah dan kemuliaan orang tersebut.
Demikian pula barangsiapa yang Allah beri kesempitan bukan menunjukkan bahwa
Allah menghinakan orang tersebut. Apapun kondisi seorang hamba semuanya adalah
ujian dan cobaan. Terkadang Allah memberi ujian kepada hamba berupa
harta, kesehatan, keselamatan, dan kenikmatan lainnya dan terkadang Allah
memberi ujian kepada hamba berupa kemiskinan, sakit, dan kondisi lainnya.
Namun sekali lagi siapa kita, hanya dengan mata manusia
lantas berhak menghakimi sesama manusia?.
''pakcik rasa yang masuk surga nanti, orang-orang alim
saja kah? tanya ustad Adam
''ya tentu, orang-orang yang macam kita
ini'' jawab pakcik masjid
''salah pakcik, yang masuk Surga nanti
hanya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang beriman itu tak semestinya
orang yang macam kita ini, hanya Allah saja yang tahu siapa orang-orang beriman
itu, walaupun dimata kita ia hanya perempuan lorong. jawab Ustad Adam.
Sikap
judgmental yang melekat kuat pada seseorang, membuat ia dengan mudahnya melabel
orang lain berdosa, dan ia yang suci.
Dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-oloknya)”. (QS. Al-Hujurat: 11)
Dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-oloknya)”. (QS. Al-Hujurat: 11)
Tak
hanya Pakcik Masjid saja yang dihinggapi sikap judgmental ini, Hj. Musalmah,
Datin Orkid, dan Aisyah bahkan awal mulanya Seorang Ustadz Adam Pun
melontarkan perkataan yang arahnya kesana.
yang
menpertanyakan mengapa Nur sholat. Nur lantas balik bertanya apakah hakikat
shalat itu hanya di khususkan untuk orang-orang alim yang seperti ustadz, dan
orang-orang berdosa seperti dirinya tak pantas bersujud pada Allah? apakah
kalau dia sholat sama dengan dia menghina Agama, ? nur mengerti terhadap
tanggapan orang-orang yang 'alim' yang memandang orang-orang seperti
dirinya tak pantas untuk menyembah Allah, tak layak untuk menginjakkan kaki ke
masjid, dan tak layak bertanya tentang Agama.
3. Kualitas
Keimanan
kita mungkin sudah berislam, namun kita
mungkin belum benar-benar beriman.
Betapa,
terkadang kita tidak mensyukuri nikmat rukuk, sujud dan berTuhan, disebabkan
kemudahan beribadah yang kita ada. mungkin ada yang beribadah disebabkan
mengejar pahala, ada yang beribadah agar Allah ampunkan dosa-dosa, namun Ada
yang beribadah bukan disebabkan Pahala dan dosa itu sendiri, namun karena
kecintaanya kepada Rabbnya.
sedang
seseorang seperti Nur, yang dalam kesukarannya terus berusaha untuk tetap rukuk
dan Sujud pada Rabbnya, walaupun Nur merasa bahwa Allah belum memakbulkan
doa-doanya. namun dengan peluang bersujud itu sendiri sudah menjadi satu nikmat
maha agung buat nur, lebih agung dari pada nikmat pengabulan doa itu sendiri.
hingga Nur menyebutkan '' lalu, nikmat Tuhan Manakah Yang akan saya dustakan??? Maa
Syaa Allah , menitik air mata saya pada scene dan dialog ini. kehidupan Nur
yang jauh dari bayangan, namun betapa tingkat kesyukurannya tak dapat dijangka,
kecuali oleh orang-orang yang dengan kualitas keimanan yang indah.
lantas
kita yang mempunyai akses beribadah dengan mudah, tempat yang nyaman untuk
beribadah, berada dilingkungan yang baik dan mendukung aktivitas ibadah kita,
sudahkah kesyukuran kita mencapai rasa kesykuran seperti apa kesyukuran yang
dirasakan Nur?
lalu
mari melihat pada karakter tokoh Ibunda Adam, Hj Musalmah, bersuamikan Ayah
Haji seorang yang Alim dan Berbudi baik lagi penceramah terkenal, dengan
kehidupan yang baik dan dalam lingkungan yang baik, yang sangat menjaga marwah
nama baik keluarga, hingga selalu menitip pesan pada anak-anaknya untuk
mendahulukan marwah keluarga sebelum mengambil keputusan. ternayata dengan apa
yang ia jaga selama ini, lalu Allah hadiahkan ujian pada Hj.Musalmah dengan
kehadiran Nur menjadi bagian keluarganya. terpikir
bagaimana hatinya dan benteng keimanannya diuji?
''Apakah manusia mengira bahwa mereka
akan dibiarkan hanya dengan mengatakan '' kami telah beriman,'' dan mereka
tidak diuji? ( QS.Al -Ankabut ayat 2)
Hj.Musalmah
menolak dengan keras keputusan Adam, dengan dalih bahwa perempuan seperti Nur
tidak layak untuk keluarganya, dan akan menghancurkan marwah keluarga.
Ibu
tetap ibu, restu ibu adalah keberkatan untuk suatu pernikahan.Terlihat
bagaimana Adam mencoba memberi pemahaman kepada ibunya.
''
ma, dalam banyaknya perempuan, Adam Juga tidak tahu kenapa Allah pilihkan Nur
untuk Adam. Ma, perkara jodoh ini sama dengan perkara maut, yang kita tidak
tahu dengan siapa Allah jodohkan kita. Ma, jika Adam melukai hati ma, Adam
Minta maaf, Adam tak ingin jadi anak Durhaka, Namun yang perlu ma tau, Allah
pasti lebih tahu kenapa Allah pilihkan Nur untuk Adam.
''
Dan Tuhanmu
Menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki, bagi mereka (Manusia) tidak ada
Pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
(QS. Al Qashash: 68)
Tak
ada lagi pilihan untuk Ibunda Adam, kecuali harus menerima bahwa Nur adalah
menantu yang Allah pilihkan untuk keluarganya.
Bukan
perkara mudah buat ibunda Adam, bagaimana ia sedaya upaya mencoba menata
hatinya agar bisa berdamai dengan keadaan, agar benar-benar ia ridho dengan
keputusan Allah untuknya.
dalam
hal jodoh, penerimaan Khadijah terhadap ketentuan Allah , bahwa ia dan adam
tidak ditakdirkan berjodoh.
'' Bagaimanapun rasa sayang kita pada seseorang,
Perkara Jodoh Memang Rahasia Allah. Kapan Saja Allah mau, Allah Akan hantar,
dan Kapan Allah mau Maka Dia akan Tarik kembali''._Khadijah.
Mencoba
Ridha dengan Takdir, itu yang dilakukan Khadijah, meskipun didalam benaknya
terjadi tanda tanya, dan memang pada akhirnya hati yang ridha disanalah
kemenangannya.
'' Allah tahu, Nur lebih membutuhkan adam untuk membimbingya
mengenal Allah''._Khadijah.
Dihampir babak episode Akhir , mari kita melihat pada Ujian yang dihantarkan pada Nur. Ada yang bisa membayangkan hati Nur kala itu, ketika Nur Mengalami keguguran, kemudian Adam menjatuhkan Talak cerai, Nur memutuskan untuk kembali pada Ibunya, dan mendapati Ibunya dalam keadaan Sakaratul maut. Allahu Rabbi , Hanya keimanan yang mengguatkan Nur. Salut sama Abang ijad, yang menulis Skript dengan paket ujian ini buat Nur.
Terlihat jelas dalam setiap perkara yang dihadapkan pada setiap karakter , bahwa memang Allah akan uji setiap jiwa, lalu dengan ujian itu maka jelaslah siapa yang benar-benar beriman.
4.
Manusia Bertopeng Iblis
Barangkali
ini Tema yang pas di sematkan pada Tokoh Karakter Hamadi. karakter yang memang
menguji penonton. dalam kehidupan ini masih banyak Tokoh Hamadi tidak hanya
melihat dari karakter dia sebagai pengguna agama untuk kepentingan nafsu
serakahnya, namun tokoh hamadi dilihat dari segi lainnya seperti banyaknya
pengguna kekuasaan yang salah menggunakan kekuasaannya. it is Munafik.
Hamadi
adalah karakter seorang yang penunggang Agama, menampakkan diri sebagai seorang
ustadz dan menikah dengan Aisyah, anak dari Ayah Haji Muchsin. Hamadi menduduki
jabatan sebagai ketua di Darul Muchsin. Hamadi melakukan penggelapan uang ,
dengan mengkambing hitamkan Ustadz Yassin.
Tidak
hanya itu, dibelakang keluarga, Hamadi selalu menjadi penggunjung setia lorong
pelacuran. Tindakan Hamadi ini membuat masyarakat lorong, mengecam Ustadz.
Sehingga mencoreng citra Ustadz.
namun
yang busuk pasti juga akan tercium.
5. Dimana Letak Keadilan Allah ?
''Mengapa Allah lahirkan golongan orang-orang lorong hanya untuk dihantarkan ke Neraka? dan Allah lahirkan golongan orang-orang baik untuk dihantarkan ke surga? dimana letak keadilan Allah jika kadar ujian yang dihadapi Manusia tidak sama beratnya ? (NUR)
sampai kapanpun takkan adil, jawab Ustadz Adam, semua manusia akan merasa tidak akan adil.
Allah ciptakan orang cacat, yang seumur hidupnya harus berjuang lebih untuk mempertahankan hidup, disamping Allah ciptakan orang yang sempurna fisiknya.
lalu Allah ciptakan orang miskin, yang generasi demi generasinya hidup dalam kemiskinan, disamping Allah ciptakan orang-orang kaya, yang tak perlu bekerja keras tapi mereka memiliki semua. Namun Yang miskin terus berjuang untuk sesuap nasi dan dengan itu ia bersyukur, lalu si kaya dengan apa yang ia punya ia bagikan kepada yang membutuhkan.
Lalu mari lihat orang muslim di Alaska mereka berpuasa sepanjang 20 jam, bila dibandingkan dengan kita disini hanya 14 jam, tapi mereka tetap ridha dengan ketetapan itu. Karena mereka tahu, bahwa ada hikmah disebalik ini semua.
Hukum tetap Hukum, pekerjaan ini bukanlah hal yang baik, sehingga perlu berjuang , disitulah letak ujiannya, jika bisa keluar dari ujian ini Maka barangkali kedudukan awak lebih tinggi dari makam para Wali kelak nantinya , jadi jangan permasalahkan lagi dimana kita berasal, namun bagaimana kita harus ridha dengan ketetapan yang Allah telah tetapkan sebagaimana Allah telah ciptakan kita terlahir pada kondisi keluarga seperti ini.
Selama kita melihat keadilan itu dari kaca mata manusia, maka selamanya kita merasa tidak akan adil. Padahal Allah itu Maha Adil, dan sesuai dengan nama dzatNya.
Saya sekarang Faham, bahwa adil itu Ridha, Ridha dengan ketentuan Dia._NUR
6. Pandangan Manusia Dan Perancangan Allah
Manusia sibuk menilai manusia lainnya, seakan dia sendiri lupa bahwa manusia lain juga sedang menilainya.
perkara ini diperlihatkan jelas dalam beberapa scene, ketika Ayah Haji menimbang untuk melanjutkan siaran program TV karena merasa cemas jangan-jangan dakwah yang ia lakukan ternyata hanya karena uang, bukan lagi karena mencari ridha Allah. Istrinya Hj Musalmah memberikan Nasehat untuk tidak menanggapi ucapan-ucapan orang tentang hal itu, karena orang-orang tak faham apa yang sebenarnya berlaku, biarkan saja pandangan orang-orang, jangan diambil berat.
lalu keadaan berbalik pada Hj Musalmah, ketika bimbang dengan ucapan orang-orang yang mengunjingkan keluarganya karena Adam Mengambil Nur sebagai isterinya, terlihat betapa tekanan yang dialami Hj Musalmah. Namun seolah-olah Hj Musalmah melupakan nasehat yang pernah ia bagi untuk Suaminya.
'' Manusia Merancang, Allah juga merancang, dan Allah sebaik-baik yang merancang, dan perancangan-Nya itulah yang jadi''
Dialog Ayah Haji yang menjadi tamparan telak:
Ketika Allah Mentakdirkan Siti Maryam melahirkan seorang anak yang tanpa di sentuh seorang lelaki, lalu banyak manusia melontarkan ucapan-ucapan hinaan, cacian dan sebagainya sebagai buah ejekan untuk Siti Maryam, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. kemudian Hikmah dari kejadian itu ternyata Allah hendak menjadikan Seorang Nabi.
jika saja kita berada di masa Siti Maryam Mengalami peristiwa itu, kira-kira kita ini termasuk orang-orang yang melontarkan ejekan dan hinaan, ataukan termasuk orang-orang yang beriman??
jangan pernah mengambil kerja Tuhan, sebab dalam setiap kejadian kita tidak mempunyai pengetahuan akan hikmah apa disebaliknya.
7. Terjebak dalam Bingkai Popularitas
Ide Penulis Sript Mengangkat Tema ini, menjadi satu fokus dimana bisa dilihat banyaknya penceramah dan Da'i yang terjebak dalam kondisi ini. menjadikan para penceramah harus menerima konsekwensi bahwa label ustadz Terkenal membuatnya terjebak dalam agenda dan tanggung jawab yang diprogramkan. gerak gerik menjadi sumber perhatian khalayak ramai, program demi program yang berbayar. memang jika iman tak memadai maka, dakwah bukan lagi karena mencari ridha Allah tapi yang selainnya.
Banyak penceramah yang mengambil zona aman untuk lahan dakwah nya.
Lalu ada pertanyaan :
Apa maksud azzura bahwa ahli agama/penceramah yang membuat agama Islam terlihat ekslusif?
Ustadz hanya menyampaikan Ilmu agama lewat TV atau program--program istemewa saja. Lalu bagaimana Dakwah itu akan Sampai pada sasarannya seperti pada Golongan--golongan Lorong, LGBT, perompak, ataupun Bohsia ,kalau Ustadz sendiri menyampaikan dakwah hanya di tempat seperti ini?? Lalu bagaimana dakwah itu akan sampai pada mereka? Saya merasa Golongan--golongan seperti mereka tidak tertarik untuk menonton program TV yang berisi ceramah ,Kalau mereka sendiri dipandang sinis oleh golongan--golongan Ekslusif beragama. Saya beranggapan
Golongan--golongan agama dari atas hingga bawah , Patut nya seperti Sayyidina Umar Yang turun ke lapangan langsung dan setiap malam menyamar untuk memberikan sedekah kepada orang-orang miskin.
Saya setuju dengan pendapat Azzura jawab Ayah Haji.
Dan untuk pengetahuan semua, banyak ustadz dan Ustadzah yang juga turun langsung ke lapangan untuk menyampaikan dakwah, hanya saja mereka tidak menampakkan diri dan menunjukkan diri semata --mata agar mereka dikenali dan menjadi sensasi ,mereka ini berusaha agar media dan orang ramai diluar Tidak mengetahui hal ini.
pertanyaan Azzura kepada Ayah Haji disalah satu acara live televisi, memberikan impact bahwa memang dakwah itu tak hanya dilakukan di zona Aman, seperti di Masjid, di event-event keagamaan saja, tapi dakwah memang harus menyentuh langsung pada sasaran, bagaimana dakwah tentang haram nya pelacuran akan sampai pada saudara2 kita, apabila isi ceramah ini dibahas dan disampaikan pada Golongan orang-orang yang bukan pelacur, golongan orang2 yang memang sudah ada di masjid, begitu pula dengan isi ceramah lainnya, patutnya memang mengenai sasaran langsung, dan memang cara nya adalah langsung di lapangan.
Sama halnya dengan jihad Budaya, jihad lewat layar TV ataupun Layar lebar lewat Film, meskipun ada orang-orang yang menolak cara ini, namun ini cara yang ampuh untuk menyampaikan dakwah. Tak dipungkiri, anak-anak muda zaman ini, lebih sulit untuk di ajak pergi ke masjid untuk mendengarkan Ceramah, tapi jika mereka di ajak ke bioskop untuk menonton, maka seperti tak ada kendala untuk mereka mengatakan iya.
Dengan konsep ini juga, orang-orang yang paham dengan kondisi ini, mengambil sikap untuk membuat film dan drama yang dengan tujuan dakwah itu sampai kepada saudaranya, bukankah dakwah itu impact dan tujuannya agar orang-orang menjadi lebih baik?
Bukannya membuat orang-orang makin jauh dari AgmaA, karena tidak sedikit saudara-saudara kita yang malah mengambil langkah menjauh setelah penyampaian dakwah yang membuatnya merasa dinerakakan oleh sikap dan lisan penyampai Agama.
8. Antara Adab
Adab sebaiknya berada di atas, ini yang ditekankan dalam Drama ini. Bagaimana Adam menghadapi situasi yang memungkinkan untuk ia memberontak kepada Kakak dan ibunya disebabkan perancangan pernikahanya dengan perempuan pilihan mereka, namun Adam tidak melakukan itu, ia tetap tenang dan berusaha menjaga ucapan dan sikapnya terhadap Kakak dan Ibunya.
terlihat Juga bagaimana Nur bersikap kepada Ibunya, Saat Cik Mona menentangnya belajar agama secara sembunyi-sembunyi, namun Nur tetap mengedepankan Adab dan hormatnya pada sang ibu. Nur Tahu bahwa yang dilakukan ibunya Salah , namun dengan Adab yang baik, nur tidak serta merta menentang balik ibunya.
Barangkali banyak yang mengangap Nur ini tidak pandai ilmu Agama, Namun Adab dia jauh diatas mereka yang katanya punya ilmu Agama. sikap Nur yang menutupi perilaku kurang baik Keluarga Adam terhadapnya, sehingga Suami dan Ibunya sendiri tidak mengetahui perkara itu. untuk menjaga keharmonisan Keluarga, Nur dengan Rapat menutup cerita demi cerita yang ia alami.
Namun disisi lain diperlihatkan juga tentang adab yang tak baik, sebagaimana yang ditampakan oleh AIsyah kepada Ayah dan Ibunya.
dari sini kita bisa bercermin diri, kira-kira karakter mana yang melekat pada kita.
✓ awak cakap, yang surga awak ada dibawah telapak kaki Mak, lalu bagaimana Surga Saya akan tercipta jika surga saya dizalimi oleh Surganya .
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
jika hendak dijabarkan, maka akan banyak poin yang akan terpaparkan, 8 point ini yang mampu saya tangkap dari cerita dengan Naskah yang menurut saya luar biasa, NUR ini bukanlah sekedar drama, ia adalah sebuah pelajaran hidup yang mampu membuka mata, pandangan dan cara berfikir tentang bagaiama semestinya manusia terhadap manusia lainnya, bagaimana manusia itu terhadap Tuhannya, Bagaimana Manusia yang menamakan dirinya penggemban dakwah untuk benar-benar menjadi seseorang yang bisa memperlihatkan keindahan Islam kepada orang-orang yang belum Paham islam, bukan menjadi musuh bagi mereka yang masih jahil dan belum paham tentang islam.
Dan pada Akhirnya ALLAH lah sebaik-baik penilai, siapa yang ia pilih untuk diberikan Hidayah, dan siapa yang tetap dengan kejahilannya.
Ini menjadi satu karya sebagai bukti jihad Budaya, berdakwah lewat media TV. Berdakwah Didunia Bergetah, Bagaimana tidak dengan hiruk pikuknya drama yang ada, hanya sepersekian yang benar-benar cerita dramanya bisa dijadikan pengajaran dan pembelajaran.
Manusia Berusaha berbuat yang terbaik, dan semua berpulang kembali kepada penilain Allah, sebagaimana karya baik ini, biarlah Allah yang menilainya.
Tahniah All Team Nur
Lalu mari lihat orang muslim di Alaska mereka berpuasa sepanjang 20 jam, bila dibandingkan dengan kita disini hanya 14 jam, tapi mereka tetap ridha dengan ketetapan itu. Karena mereka tahu, bahwa ada hikmah disebalik ini semua.
Hukum tetap Hukum, pekerjaan ini bukanlah hal yang baik, sehingga perlu berjuang , disitulah letak ujiannya, jika bisa keluar dari ujian ini Maka barangkali kedudukan awak lebih tinggi dari makam para Wali kelak nantinya , jadi jangan permasalahkan lagi dimana kita berasal, namun bagaimana kita harus ridha dengan ketetapan yang Allah telah tetapkan sebagaimana Allah telah ciptakan kita terlahir pada kondisi keluarga seperti ini.
Selama kita melihat keadilan itu dari kaca mata manusia, maka selamanya kita merasa tidak akan adil. Padahal Allah itu Maha Adil, dan sesuai dengan nama dzatNya.
Saya sekarang Faham, bahwa adil itu Ridha, Ridha dengan ketentuan Dia._NUR
6. Pandangan Manusia Dan Perancangan Allah
Manusia sibuk menilai manusia lainnya, seakan dia sendiri lupa bahwa manusia lain juga sedang menilainya.
perkara ini diperlihatkan jelas dalam beberapa scene, ketika Ayah Haji menimbang untuk melanjutkan siaran program TV karena merasa cemas jangan-jangan dakwah yang ia lakukan ternyata hanya karena uang, bukan lagi karena mencari ridha Allah. Istrinya Hj Musalmah memberikan Nasehat untuk tidak menanggapi ucapan-ucapan orang tentang hal itu, karena orang-orang tak faham apa yang sebenarnya berlaku, biarkan saja pandangan orang-orang, jangan diambil berat.
lalu keadaan berbalik pada Hj Musalmah, ketika bimbang dengan ucapan orang-orang yang mengunjingkan keluarganya karena Adam Mengambil Nur sebagai isterinya, terlihat betapa tekanan yang dialami Hj Musalmah. Namun seolah-olah Hj Musalmah melupakan nasehat yang pernah ia bagi untuk Suaminya.
'' Manusia Merancang, Allah juga merancang, dan Allah sebaik-baik yang merancang, dan perancangan-Nya itulah yang jadi''
Dialog Ayah Haji yang menjadi tamparan telak:
Ketika Allah Mentakdirkan Siti Maryam melahirkan seorang anak yang tanpa di sentuh seorang lelaki, lalu banyak manusia melontarkan ucapan-ucapan hinaan, cacian dan sebagainya sebagai buah ejekan untuk Siti Maryam, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. kemudian Hikmah dari kejadian itu ternyata Allah hendak menjadikan Seorang Nabi.
jika saja kita berada di masa Siti Maryam Mengalami peristiwa itu, kira-kira kita ini termasuk orang-orang yang melontarkan ejekan dan hinaan, ataukan termasuk orang-orang yang beriman??
jangan pernah mengambil kerja Tuhan, sebab dalam setiap kejadian kita tidak mempunyai pengetahuan akan hikmah apa disebaliknya.
7. Terjebak dalam Bingkai Popularitas
Ide Penulis Sript Mengangkat Tema ini, menjadi satu fokus dimana bisa dilihat banyaknya penceramah dan Da'i yang terjebak dalam kondisi ini. menjadikan para penceramah harus menerima konsekwensi bahwa label ustadz Terkenal membuatnya terjebak dalam agenda dan tanggung jawab yang diprogramkan. gerak gerik menjadi sumber perhatian khalayak ramai, program demi program yang berbayar. memang jika iman tak memadai maka, dakwah bukan lagi karena mencari ridha Allah tapi yang selainnya.
Banyak penceramah yang mengambil zona aman untuk lahan dakwah nya.
Lalu ada pertanyaan :
Apa maksud azzura bahwa ahli agama/penceramah yang membuat agama Islam terlihat ekslusif?
Ustadz hanya menyampaikan Ilmu agama lewat TV atau program--program istemewa saja. Lalu bagaimana Dakwah itu akan Sampai pada sasarannya seperti pada Golongan--golongan Lorong, LGBT, perompak, ataupun Bohsia ,kalau Ustadz sendiri menyampaikan dakwah hanya di tempat seperti ini?? Lalu bagaimana dakwah itu akan sampai pada mereka? Saya merasa Golongan--golongan seperti mereka tidak tertarik untuk menonton program TV yang berisi ceramah ,Kalau mereka sendiri dipandang sinis oleh golongan--golongan Ekslusif beragama. Saya beranggapan
Golongan--golongan agama dari atas hingga bawah , Patut nya seperti Sayyidina Umar Yang turun ke lapangan langsung dan setiap malam menyamar untuk memberikan sedekah kepada orang-orang miskin.
Saya setuju dengan pendapat Azzura jawab Ayah Haji.
Dan untuk pengetahuan semua, banyak ustadz dan Ustadzah yang juga turun langsung ke lapangan untuk menyampaikan dakwah, hanya saja mereka tidak menampakkan diri dan menunjukkan diri semata --mata agar mereka dikenali dan menjadi sensasi ,mereka ini berusaha agar media dan orang ramai diluar Tidak mengetahui hal ini.
pertanyaan Azzura kepada Ayah Haji disalah satu acara live televisi, memberikan impact bahwa memang dakwah itu tak hanya dilakukan di zona Aman, seperti di Masjid, di event-event keagamaan saja, tapi dakwah memang harus menyentuh langsung pada sasaran, bagaimana dakwah tentang haram nya pelacuran akan sampai pada saudara2 kita, apabila isi ceramah ini dibahas dan disampaikan pada Golongan orang-orang yang bukan pelacur, golongan orang2 yang memang sudah ada di masjid, begitu pula dengan isi ceramah lainnya, patutnya memang mengenai sasaran langsung, dan memang cara nya adalah langsung di lapangan.
Sama halnya dengan jihad Budaya, jihad lewat layar TV ataupun Layar lebar lewat Film, meskipun ada orang-orang yang menolak cara ini, namun ini cara yang ampuh untuk menyampaikan dakwah. Tak dipungkiri, anak-anak muda zaman ini, lebih sulit untuk di ajak pergi ke masjid untuk mendengarkan Ceramah, tapi jika mereka di ajak ke bioskop untuk menonton, maka seperti tak ada kendala untuk mereka mengatakan iya.
Dengan konsep ini juga, orang-orang yang paham dengan kondisi ini, mengambil sikap untuk membuat film dan drama yang dengan tujuan dakwah itu sampai kepada saudaranya, bukankah dakwah itu impact dan tujuannya agar orang-orang menjadi lebih baik?
Bukannya membuat orang-orang makin jauh dari AgmaA, karena tidak sedikit saudara-saudara kita yang malah mengambil langkah menjauh setelah penyampaian dakwah yang membuatnya merasa dinerakakan oleh sikap dan lisan penyampai Agama.
8. Antara Adab
Adab sebaiknya berada di atas, ini yang ditekankan dalam Drama ini. Bagaimana Adam menghadapi situasi yang memungkinkan untuk ia memberontak kepada Kakak dan ibunya disebabkan perancangan pernikahanya dengan perempuan pilihan mereka, namun Adam tidak melakukan itu, ia tetap tenang dan berusaha menjaga ucapan dan sikapnya terhadap Kakak dan Ibunya.
terlihat Juga bagaimana Nur bersikap kepada Ibunya, Saat Cik Mona menentangnya belajar agama secara sembunyi-sembunyi, namun Nur tetap mengedepankan Adab dan hormatnya pada sang ibu. Nur Tahu bahwa yang dilakukan ibunya Salah , namun dengan Adab yang baik, nur tidak serta merta menentang balik ibunya.
Barangkali banyak yang mengangap Nur ini tidak pandai ilmu Agama, Namun Adab dia jauh diatas mereka yang katanya punya ilmu Agama. sikap Nur yang menutupi perilaku kurang baik Keluarga Adam terhadapnya, sehingga Suami dan Ibunya sendiri tidak mengetahui perkara itu. untuk menjaga keharmonisan Keluarga, Nur dengan Rapat menutup cerita demi cerita yang ia alami.
Namun disisi lain diperlihatkan juga tentang adab yang tak baik, sebagaimana yang ditampakan oleh AIsyah kepada Ayah dan Ibunya.
dari sini kita bisa bercermin diri, kira-kira karakter mana yang melekat pada kita.
9. Dialog Pilihan
✓Antara Ayah Haji dan Ustadz Adam
" Adam tak Rasa ke? Jika Allah telah Hantar Adam untuk mengangkat Perempuan dari tempat yang hina ke tempat yang lebih baik?? Ini kesempatan Adam untuk menyelamatkan dia dari kehidupan gelap yang telah lama ia mohonkan Pada Allah". Kata Ayah Haji
✓" ustadz , Yang dekat dalam Tuh Syurga, saya ini hanya perempuan lorong, sebanding kah apa yang Ustadz Lakukan?? Tanya Nur pada Adam.
"Saya lakukan semua karena Allah. Jawab Adam
" Karena Allah? Sampai sanggup lukakan hati Mak? Tanya Nur lagi.
" Satu hari nanti kau akan faham " jawab Adam.
✓Sekarang emak dah faham kenapa dia pilih kamu. Sebab kamu ikhlas dengan Allah. Kamu cinta Dia bukan atas dosa dan pahala kamu. Tapi sebab Dia Tuhan kamu dan kamu perlukan Dia."
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
jika hendak dijabarkan, maka akan banyak poin yang akan terpaparkan, 8 point ini yang mampu saya tangkap dari cerita dengan Naskah yang menurut saya luar biasa, NUR ini bukanlah sekedar drama, ia adalah sebuah pelajaran hidup yang mampu membuka mata, pandangan dan cara berfikir tentang bagaiama semestinya manusia terhadap manusia lainnya, bagaimana manusia itu terhadap Tuhannya, Bagaimana Manusia yang menamakan dirinya penggemban dakwah untuk benar-benar menjadi seseorang yang bisa memperlihatkan keindahan Islam kepada orang-orang yang belum Paham islam, bukan menjadi musuh bagi mereka yang masih jahil dan belum paham tentang islam.
Dan pada Akhirnya ALLAH lah sebaik-baik penilai, siapa yang ia pilih untuk diberikan Hidayah, dan siapa yang tetap dengan kejahilannya.
Ini menjadi satu karya sebagai bukti jihad Budaya, berdakwah lewat media TV. Berdakwah Didunia Bergetah, Bagaimana tidak dengan hiruk pikuknya drama yang ada, hanya sepersekian yang benar-benar cerita dramanya bisa dijadikan pengajaran dan pembelajaran.
Manusia Berusaha berbuat yang terbaik, dan semua berpulang kembali kepada penilain Allah, sebagaimana karya baik ini, biarlah Allah yang menilainya.
Tahniah All Team Nur
![]() |
| Drama Rantaian Terbaik dalam Festival Drama Kuala Lumpur 2019 |
Sincerely
Peminat Drama Nur yang belum bisa Move On.







Komentar
Posting Komentar