Review book : Andai Itu takdirnya

Novel


Judul : Andai Itu takdirnya

Penulis : Siti Rosmizah

Genre : Novel Fiksi ,Konflik, Sad, Romance

Nomor ISBN:

 Andai Itu Takdirnya ISBN 978-967-2858-02.7

 Andai Itu Takdirnya (2) ISBN 978-968-5822-27-8

Jumlah halaman AIT 583 hal- AIT(2) 920 hal-

Tahun terbit : AIT cetakan ke-27, 2021

                          AIT(2) cetakan ke-7, 2018   

Negara : Malaysia        

                            ****


"Novel yang membuat saya membeli novel."


Siti Rosmizah dikenal dengan penulis novel air mata, dengan begitu menguras emosi pembaca, bukan hanya menghadirkan kegeraman, tetapi babak-babak romantik dan tawa canda juga mampu ia lukiskan yang membuat pembaca ikut hanyut dalam cerita. Eaaaaaa, pasti yang pernah baca karya Siti Rosmizah akan teriak setuju.🤭🤭

Membaca novel Andai itu takdirnya bagian pertama dan ke-dua, membuat saya berpikir mungkinkah, dari novel inilah munculah cerita seperti 7 hari mencintaiku, curi-curi cinta, jangan menangis cinta dan Rindu Awak separuh nyawa?? 

Why: secara garis besar ke-empat cerita itu mempunyai alur yang mirip, yang membedakan hanya pada konflik, tetapi "tarik-menarik" hero dan heroin memang persis, atau mungkin sebab penulisnya orang yang sama dan Andai itu takdirnya adalah karya pertama sang Author, jadi tidak menuntup kemungkinan, bukan?

Apakah kalian merasakan hal yang sama setiap membaca karya Siti Rosmizah?

Nah, yang menarik dan membedakan ada pada konflik, dan kehadiran watak lainnya.

Khususnya watak-watak yang berkaitan erat dengan hero dan heroin, seperti kehadiran sahabat, yang digambarkan menjadi support system yang sangat positif vibe.

Mari kita ulik cerita Andai itu takdirnya. Lets go. 😄

Digambarkan sosok Aleya adalah Gadis cantik, cerdas, mandiri yang berasal dari keluarga sederhana. Ia jatuh cinta pada pria yang satu angkatan kuliah dengannya, Syed Aizril, yaitu seorang yang tampan, kaya, ego, angkuh dan emosional.

Mungkin tergambar klise kan, bagaimana Aleya bisa jatuh cinta dengan lelaki seperti itu? Karena ketampanan saja? Memang tidak logik.

Nah, sabar dulu, karena disini di ceritakan Aleya memang tidak pernah berharap bisa memiliki cinta lelaki itu, karena Aleya sadar siapa dirinya.

Konflik bermula ketika Aleya masuk dalam hidup Syed Aizril disebabkan satu kejadian yang akhirnya membuat keduanya menikah.

Kalau kata orang "selamat datang dalam gerbang "neraka". Pernikahan impian sejatinya yang penuh kasih dan cinta justru berbalik keadaanya pada kehidupan Aleya dan Aizril.

Syed Aizril tidak pernah menerima Aleya, semenjak Aleya berstatus sebagai isterinya perlakuan yang ia berikan pada Aleya memang diluar nalar "kemanusiaan", Aleya selalu menjadi sasaran kemarahan Syed Aizril. 

Apadaya, Aleya yang telah dibuang orangtuanya sesaat dirinya menjadi isteri Syed Aizril, karena tidak mudah orang tuanya menerima hal itu, apalagi penyebab pernikahan anaknya bersangkut paut dengan harga diri dan nama baik keluarga, betapa malunya Ibu dan Bapak Aleya kala itu.

Aleya harus menelan pil pahit kehidupan  seorang diri, belum lagi layanan buruk dari Ibu dan bapak mertuanya, lengkaplah penderitaan Nur Aleya binti Idris.

Ia ingin ibu bapaknya tahu bahwa apa yang dituduhkannya pada dirinya semua tidak benar dan Ia harus berjuang membuktikan hal tersebut.

Malang tidak dapat ditolak, api kebencian kian membakar Suaminya, semua kesalahan selalu dilemparkan pada Aleya. 

Aleya terus bertahan sedaya upaya. Ia juga tidak mau terus dipijak marwahnya. Tetapi nampaknya Syed Aizril selangkah lebih licik, Ya, Aleya tidak bisa keluar dari jebakan ikatan pernikahan itu.

Delapan bulan Aleya mengandung tanpa suami disisi, hidupnya benar-benar hanya mengharapkan kekuatan dari Allah. Beruntung Umairah selalu mendampinginya, memberikan support pada Aleya dalam pasang surut hidupnya.

Disangka api amarah telah surut, rupa-rupanya, kemarahan itu kian memuncak ketika Syed Aizril mengetahui bahwa Aleya mengandung. 

Akibat kekejaman Suaminya Aleya harus bertarung nyawa di ICU, dan ia juga harus merelakan salah satu bayi kembarnya menutup usia di awal-awal kehidupan si kecil itu.

Aleya telah pasrahkan semuanya. Andai itu takdirnya, biarlah ia bina hidupnya dengan permata hatinya, Dania. 

Namun, Tuhan Maha Adil, orang yang zalim tidak akan dibiarkan dengan Angkuh dan semena-mena berjalan dimuka bumi. Syed Aizril mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua kakinya lumpuh.

Keikhlasan hati Aleya dipertanyakan? Dalam kondisi suaminya yang sebegitu, masih adakah belas kasihnya pada lelaki yang hampir merenggut nyawanya?

Kecelakaan telah membuat Syed Aizril berubah, ia mulai menyadari betapa kejamnya ia sebagai seorang suami dan sebagai seorang Ayah, pantaskah ia mendapatkan kemaafan dari isteri dan anaknya?

Kebahagiaan Aleya dan Syed Aizril tidak bertahan lama, sebab penulis memahami, konflik rumah tangga keduanya adalah fokus utama yang menjadi puncak untuk memainkan perasaan pembaca.

Ya, Aleya harus kembali menjalani getir dan pahit kehidupan di novel bagian kedua.

Konflik yang dipaparkan dalam AIT(Andai Itu takdirnya) bagian pertama, tidak berbeda jauh dengan konflik yang terjadi di AIT 2, meskipun ada konflik yang baru dimunculkan pada bagian ke-dua, seperti kegagalan bisnis Syed Aizril yang menjadi duduk permasalahan lahirnya konflik lainnya.

Siti Rosmizah paham sekali bagaimana memainkan emosi pembaca, meskipun dengan beberapa konflik yang berulang, tapi pembaca akan betah untuk menghabiskan lembar demi lembar novel ini.

Dalam novel kedua yang hampir tembus 1000 halaman ini, porsi kesedihan Aleya masih mendominasi, Aleya juga kembali merasakan kehilangan buah hatinya.

Part kematian Dany, adalah kesedihan paling klimaks bagi saya, saya harus menangis dari bab ke bab, disebabkan kepergian Dany yang begitu memilukan.

Kita bisa rasakan kesedihan Aleya, bagaimana dengan sebaik mungkin ia menjaga anak-anaknya penuh cinta kasih yang tulus, ia tetap berusaha mempertahankan rumah tangga yang bak "penjara penderitaan" semata-mata agar anaknya tidak kehilangan figur seorang ayah, ia telan apapun jua, tetapi, ia harus menerima kenyataan, Dany menutup episode hidupnya disebabkan ulah Ayahnya sendiri.

Novel ini, memang mengaduk-aduk hati bagi siapa yang menyelami lembar demi lembar isinya. Watak seperti Sharifah Aisyah yang sudah insaf sejak pertengahan novel pertama, watak itu tetap dikekalkan baik hingga ke novel ke-dua tanpa berubah hati lagi pada anak menantunya. 

Sharifah Rosnah, Adik kepada Ayah Syed Aizril, dihadirkan sebagai pelengkap konflik keluarga, ia watak yang on Off, Insyaf tak Insyaf.

Lalu kehadiran Sharifah Emilin dan Sharifah Azreen yang menggugat kesetiaan Syed Aizril, hingga ia melupakan janjinya pada Aleya untuk menjaga Isterinya itu seumur hidup.

Kemunculan watak-watak lainnya yang menambah konflik semakin memanas.

Watak tambahan yang paling dipuji adalah Ikram dan Umairah. Sosok menarik yang menjadi penyeimbang emosi pembaca.

Dihadirkan dalam karakter yang berpendirian, setia kawan, tulus, hingga dua karakter ini bisa fight dengan Syed Aizril, karena keduanya berada pada satu strata sosial dan ekonomi dengan Syed Aizril.

Keluasan hatinya memberikan kemaafan atas segala perlakuan dan kedzaliman orang-orang padanya. 

Aleya, ia bagai permata. Permata tetap akan menjadi permata. Sebanyak apapun debu hitam menerpanya berkali-kali. Ia akan tetap berkilau hingga nanti. Kilaunya pun mampu menjadi cahaya bagi kegelapan disekelilingnya.

Sememangnya begitulah kehadiran seorang muslim. Menjadi cahaya bagi mereka yang hidupnya diliputi kegelapan, sehingga akhirnya bisa berjalan dijalan yang lurus.

Begitulah semestinya seorang muslim, jika sabar adalah kunci untuk membukakan pintu hidayah bagi orang yang dikasihi, maka tidak ada pilihan, selain bersabar.

Jalan Dakwah yang ditempuh Nabi dahulu, sukar dan berliku, lalu saat Nabi tidak mampu lagi bersabar dengan kaumnya, Nabi pun mengangkat tangan seraya berdoa, lalu sekejap mata umatnya Pun Binasa.

Namun, Nabi Kita, Rasulullah Salallahu Alaihi wassallam, Saat di Thaif, dilempari batu, dicaci dan diusir, Beliau memilih bersabar, padahal, jika saja Rasulullah mengangkat tangannya untuk mohon kebinasaan, maka pastilah seketika Kaum akan binasa. Dan rupanya Hikmah yang bisa dipetik, dari kaum itu justru lahirlah para pembela agama Allah. 

Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi Aleya.

Sebab kebahagiaan Aleya ada pada keluarganya, ada pada Suami dan Anak-Anaknya.

Akankah Syed Aizril balik semula pada Aleya?ataukah Lukman yang akan menjadi peneman hidup Aleya sampai ke akhir hayatnya?

Adakah peluang dan keinsyafan bagi lelaki kejam bernama Syed Aizril? Ataukah Allah gantikan dalam bentuk yang lain, yang datang dengan penuh cinta dan keinsyafan untuk menebus segalanya?

Mau tau akhir kisah hidup Aleya? 

Novel AIT bisa didapatkan di Malaysia. Saya order via Jastip, sebab itulah salah satu cara menghargai sebuah karya dengan membeli Novel original. Not Bajakan. 

Menamatkan Novel dua sesion setebal kurang lebih 1600 halaman adalah pengalaman pertama bagi saya. Mengingat saya bukan tipe pembaca novel fiksi. Saya tipe pembaca buku non-Fiksi. Saya salut dengan pembaca yang berhasil menamatkan novel ini hanya dalam hitungan hari, sedangkan saya memerlukan waktu 86 hari untuk menyelesaikan Novel AIT.

Rasa kesal, air mata, dan sakit hati menjadi momentum yang akan saya ingat sepanjang saya membaca novel ini, tetapi ada hal besar yang sebenarnya ingin disampaikan sang penulis yaitu Kesabaran, keikhlasan dan bagaimana ridha-nya hati perempuan bernama Aleya.

Apa yang telah Aleya lalui dalam hidupnya, kekejaman dan perlakuan buruk suami bernama Syed Aizril, membuat Aleya menyadari satu hal, bahwa sebaik-baik tempat bergantung hanya kepada Rabb, Tuhan pemilik hati setiap manusia.

Novel ini hendak menunjukkan pada pembacanya, betapa keikhlasan dan ketulusan hati, mampu meluluh lantakkan tembok keegoisan, kerasnya dendam dan kedengkian, hingga tak ada cara lain selain menempuh jalan dan menemukan titik keinsyafan sebagai pilihan.

Andai itu takdirnya bisa dijadikan bacaan untuk menguji sejauh mana air mata mampu bertahan dipelupuk mata anda.

Kekurangan Novel ini: 

1.Halaman terlalu tebal, padahal ada banyak dialog  serupa yang berulang, yang bisa diminimalisir.

2. Penyajian isi cerita lebih banyak pada dialog, tidak berimbang dengan narasi. Mungkin saya merasa tidak nyaman, karena saya lebih suka pada bagian narasi.🙏

3. Ada beberapa Perpindahan dialog watak, dari waktu yang satu ke waktu yang berbeda tidak diberikan tanda, sehingga pembaca harus meneliti, apakah ini masih sambungan dialog diwaktu yang sama ataukah telah berpindah.

Tak sabar menanti kedatangan adaptasi drama Andai Itu takdirnya, yang saya rasa saat nanti Novel ini on screen Televisi, pasti akan berkali ganda feel-nya. Khususnya bagi yang sudah membaca novel ini berkali-kali.

*Jika anda peminat drama melayu, saya rekomendasikan untuk membeli novel ini dan membacanya, karena ketika ia jadi drama, maka akan sangat banyak plot twist dan kejutan yang akan membuat anda bertanya-tanya gimana kelanjutannya ya. Jadi kalau sudah membaca novelnya, setidaknya kita tidak akan terkena scam plot twist nantinya. ☺️



*Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setiap karya bisa menjadi referensi pembaca untuk memperkaya pengetahuan, menguji kepekaan hati dan menjadi pewarna harinya.*

Sincerely : Peminat Siti Rosmizah yang lahir dari minatnya pada drama 7 Hari Mencintaiku. 🥰.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memetik Ibrah disebalik Drama

Memerik Ibrah di sebalik drama, Scene Akhir Andai Itu Takdirnya