Memerik Ibrah di sebalik drama, Scene Akhir Andai Itu Takdirnya
Happy Ending dalam Sad Ending
Aku yang mengharapkan "Happy ending".
Aku pikir happy ending hanya berlaku, ketika Manusia lainnya akhirnya menerima kita kembali dengan penerimaan yang utuh. Tapi, rupanya aku keliru, karena itu bukanlah tolak ukurnya.
Awalnya aku tak nampak hikmah-hikmah, namun setelah ku telaah lagi dan lagi,
"Inilah Happy Ending sesungguhnya bagimu, Aizril"
Aku lalu tersenyum, menyadari satu hal.
inginku kabarkan padanya, sebagai penghibur hatinya yang pilu itu sambil berkata "Duhai hati yang berduka dan bersedih, apakah gerangan yang engkau cari untuk membuatmu bahagia?
Bukankah Allah telah mengembalikan potongan hatimu dalam bentuk yang baru padamu? Lupa kah kamu? Padahal sebelum ini, hatimu kelat, hitam yang diliputi kebencian, dengki, kesombongan dan kedurhakaan?
Apakah yang kamu cari untuk membuatmu bahagia? Tidak cukup kah Ketika Rabb telah mengembalikan Fitrahmu sebagai manusia, dengan menjadikanmu pribadi yang baik dan taat dari dirimu sebelum ini?
Ingatlah lagi bahwa, penerimaan manusia bukan lah satu-satunya yang dapat membuat bahagia.
Bergembira lah dengan apa yang kau ada, Iman, ketaatan itu bukan sesuatu yang mudah untuk didapatkan, sebab segala kebaikan, bahkan isi dunia sekalipun akan sia-sia tanpanya.
Coba dengarlah percakapan Suami istri ini;
S: "Aku akan membuatmu sengsara," ancamnya"
I: "engkau tidak akan bisa melakukan itu"
S : "mengapa tidak?"
I: "Jika kebahagiaan itu terletak pada harta, mungkin engkau bisa mencegahnya dariku, ataupun kebahagiaan itu terletak pada cintamu, mungkin engkau bisa menahannya untuk bisa tidak sampai kepadaku, namun kebahagiaanku bukanlah tergantung pada apa pun yang engkau miliki, atau yang dimiliki manusia lainnya. Sebab aku menemukan kebahagiaan itu dalam keimananku yang bersemayam kukuh dihatiku, dan tiada yang berkuasa atas hatiku, selain Tuhanku."
Berbahagialah, karena kembalinya engkau pada jalan Tuhanmu adalah lebih disukai oleh-Nya, karena kebahagiaan-Nya dalam menerima taubat seorang hamba melebihi kebahagiaan orang bahkan dirimu sendiri, yang ketika kehilangan barangnya paling berharga lalu ia kembali menemukannya.
Hendaklah tekadmu untuk meniti kebahagiaan itu menjadi cobaan yang juga membahagiakan.
Sesuatu yang hilang, pasti diganti. Entah dalam bentuk yang lain, ataupun bentuk yang sama, namun jauh lebih baik. Tapi kalau iman yang hilang, tak ada gantinya.
Allah tahu, betapapun kamu ingin menahannya, tapi pada akhirnya terlerai juga. Barangkali dengan begitu, kesabaranmu jadi lebih dalam lagi pengharapanmu kepada-Nya akan lebih tinggi lagi.
Hati bisa berubah dalam setiap waktu. Betapapun tak ingin melihat cinta dan aniaya menyatu. Sebab cinta tak akan bertahan dan pasti pergi.
Biarlah waktu dan apapun yang berubah, tapi kamu kepada Tuhanmu jangan.
Andai itu takdirnya, Ridha adalah pilihan.
@delfirafira
Komentar
Posting Komentar