Review: Peraturan, ikut atau mati
"Andai mereka bilang kita gila, maka mereka yang hidup tanpa peraturan itu lebih gila. Andai mereka bilang kita pembunuh, maka mereka-lah yang sebenarnya menjadikan kita pembunuh."(Owdy)
Jarang-jarang review drama bisa masuk dalam postingan blog ini.😍
Ok, setelah sekian banyak jumat yang terlewati, hari ini hadir kembali. Oleh-oleh yang saya bawakan yaitu sebuah telemovie; Peraturan, ikut atau mati, karya Feroz kader.
Telemovie ini rilis pada akhir tahun 2019, dibintangi oleh Shukri Yahaya, Sara Ali, Fauzi Nawawi dan deretan pelakon Malaysia lainnya.
Masalah yang dipaparkan sederhana, tentang peraturan lalu lintas di jalan raya, tetapi hal sederhana ini, jika diabaikan maka menimbulkan masalah yang rumit.
Jalan raya, ya, fasilitas yang digunakan oleh seluruh manusia di muka bumi, kan?
Apa jadinya jika segelintir manusia abai terhadap aturan tersebut? Nyawa taruhannya.
Kita tidak bicara tentang kecelakaan lalu lintas.
Menarik issue yang di angkat dalam cerita ini, yaitu sebuah ambulance berisi ibu bersalin yang terjebak macet.
Nah, disinilah hati nurani dipertaruhkan, keegoisan dijunjung tinggi dan kesabaran yang hilang entah melebur ke mana.
Kisah di awali dengan seorang lelaki terbaring di tempat tidurnya sambil mengenggam sepotong daging, berlumur darah.
Sejurus kemudian muncul seorang wanita berpakaian putih bersih dengan senyum tak seberapa lebar sambil berbisik" terima kasih karena kau tak mungkir janji".
Awalnya, saya pikir ini kisah pesugihan. Ternyata tidak.
Lelaki itu bernama Owdy dan Istrinya Fatin.
Fatin mengandung anak pertama, kehamilannya beresiko.
Dalam cerita ini tidak disebutkan secara detail resiko kehamilan yang diderita oleh Fatin. Tapi its Ok.
Malam itu, Fatin akan melahirkan, Owdy membawa Isterinya ke rumah sakit dengan mobil bututnya, tapi, sayang mobil itu tidak bisa dihidupkan. Sehingga keputusan selanjutnya adalah menghubungi RS agar dikirimkan Ambulance secepat mungkin.
Untungnya ambulance tepat waktu menjemput. Namun, masalah lainnya yang muncul, kondisi jalan macet, tak ada celah yang bisa dilalui ambulance tersebut.
Kondisi Fatin terus menurun, ia harus segera mendapat penanganan cepat di rumah sakit, tapi, kendaraan yang berjejer di depan ambulance seperti memekakan telinganya atau pura-pura tuli dengan suara sirine ambulance itu.
Owdy hilang sabar, ia tak sanggup hanya menunggu di dalam ambulance. Ia lalu bertekad keluar turun ke jalan raya, mengetuk satu per satu kaca mobil yang menghalangi ambulance.
"Tolong menepilah sedikit, dalam ambulance itu ada isteri saya, dia akan melahirkan, tolonglah menepi" iba Owdy.
Tetapi tak satu pun mobil itu mau menepi.
Fatin tak bisa diselematkan. Owdy harus kehilangan Isteri dan bayi yang masih dalam kandungan itu.
Oke, sampai disini mari kita lihat.
Bukankah peraturan jalan raya, ketika ada ambulance, maka, mobil atau kendaraan lain di depan harusnya menyingkir ke tepi jalan, dan memberikan hak prioritas Ambulance. Namun, hak itu tidak didapatkan oleh Owdy dan isterinya yang kritis saat berada di ambulace.
Lalu dalam hal ini, bagaimana cara Owdy menuntut keadilan itu?
Apakah pengadilan akan menghukum seluruh pengendara yang merenggut hak prioritas ambulance malam itu? Tentunya mustahil.
disinilah kita melihat, orang-orang yang memiliki hati, tapi sebenarnya hatinya tidak berfungsi.
Enam tahun berlalu, dan setiap tanggal 5 Mei, selalu ada sosok mayat yang ditemukan ditepi jalan dalam kondisi dada yang bolong tanpa hati.
Kasus yang sama, pembunuh hanya meninggalkan secarik kertas "Peraturan, denda atau mati"
orang-orang yang mati dibunuh itu, tidak mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan pembunuh. Hingga beberapa saat sebelum dadanya di sobek, pembunuh yang tak lain adalah Owdy, akan mengingatkan korban dengan sebuah mobil-mobilan ambulance yang ia bunyikan sirinenya, lalu dengan ujar kemarahan, "Kau ingat ini? Enam tahun lalu, isteri saya ada dalam ambulance itu, lalu saat saya minta kamu menepi, tapi, tidak kamu lakukan, apa gunanya ada hati, jika tak berfungsi, baiknya keluarkan saja ia dari sana."
Begitu Owdy menghabisi setiap korban, yang entah sampai kapan ia akan berhenti membunuh.
Nyatanya, setelah kematian isterinya itu, kondisi Owdy memang semakin tidak karuan, ia hidup dalam bayang-bayang fatin. Halusinasi kompleks, penglihatan, pendengaran, penghidu.
Lalu setelah mengeluarkan hati dari rongga dada korban, ia akan memberikannya pada Fatin, yang notabene sosoknya hanya halusinasinya saja.
Polisi menyiasati kasus yang 6 tahun belum ditemukan siapa dalangnya, hingga sampai pada satu titik yang mengarah pada Owdy.
Mencari berbagai sumber, polisi menemukan Ibu Owdy di kampung, ternyata owdy sudah 7 tahun tidak pernah kembali lagi ke rumah ibunya.
Banyak hal yang mereka gali dari sang Ibu.
Sampai di sini, penonton akan paham, bahwa kematian Fatin hanya faktor pencetus kondisi tidak karuan Owdy, karena ternyata Owdy sejak kecil memang memiliki masalah mental. Tapi tidak dipaparkan secara spesifik diagnosis masalah mental yang di alami Owdy.
Pentingnya parenting, dan pengetahuan tumbuh kembang anak harus dimiliki setiap ibu, agar bisa memahami dan mengetahui kondisi anaknya. Apalagi terkait masalah mental. Beberapa ibu menganggap mungkin anaknya kelewat nakal saja, atau anaknya terlalu pendiam. Jadi akan merasa wajar.
Keadaan akan semakin buruk, saat perlakuan ibu atau orang tua tidak tepat ketika anak dengan gangguan mental ini melakukan kesalahan.
Hal ini akan sangat memukul emosinya dan membekas sampai ia dewasa, rekam memori mereka kuat terhadap setiap perlakuan buruk yang mereka terima. Begitu juga dengan Owdy. Setiap hukuman, pukulan ibunya begitu kuat tinggal di memorinya bersamaan dengan ucapan "siapa salah kena denda" berulang-ulang. Sampai tembok kamarnya akan ia tulis dengan kalimat itu.
Ya, Owdy, hanya sedang mencari keadilan yang tidak ia dapatkan meskipun ke pengadilan manapun ia menuntut, saat ia harus kehilangan isteri dan anaknya.
Ya, Owdy, hanyalah korban ketikpekaan dan kesalahan pola asuh orang tua ketika ia kecil.
Ya, Owdy hanyalah 1 dari sekian Owdy lainnya yang harus menanggung kehilangan di akibatkan keegoisan dan ketikpekaan nurani para pengguna jalan yang tidak patuh aturan.
***
📌Para pemeran sangat baik memainkan wataknya.
📌Tampilan effect pada korban, harusnya bisa terlihat lebih real. But, its Ok.
📌Alur mantap.
📌Peraruran, ikut atau mati.
9/10⭐
Komentar
Posting Komentar