Wajah dari tanah yang jauh
Part Penerimaan VS Penolakan
********
Ilayna tidak ingin terus jadi parasit pada Ayahnya. Tiba saatnya ia ingin berdikari. Kondisi rumah yang menurutnya tidak nyaman, adalah salah satu alasan untuk Ilayna mencari suasana baru sekaligus menyalurkan berbagai opini yang tumpang-tindih dalam kepalanya.
Meskipun Ilayna belum menjadi partner sebuah media masa sebagai seorang jurnalis, tapi Ia cukup aktif menulis artikel dan berhasil terbit di beberapa media digital. Ia bangga karena mendapat penghasilan dari hasil kerjanya sendiri. Namun, hal itu tentu saja belum cukup baginya, ia ingin menjadi jurnalis yang professional yang kelak bekerja di bawah naungan media masa ternama.
”last. untuk hari ini.” Ilayna menarik napas pelan.
Pandangan Ilayna tertuju pada gedung di depannya, harapan baru news, atau di singkat panru news. Berbekal fotocopi ijazah bergelar S.Hum, CV dan surat lamaran kerja, ditambah kepercayaan diri yang tinggi serta cita-cita untuk menjadi jurnalis.
"Kami sedang mencari jurnalis yang akan di terjunkan khusus di peliputan keagamaan." terang pewawancara itu sembari membuka berkas lamaran kerja Ilayna, "menarik, jebolan UI, S.Hum. tapi..., "
"Tapi apa, Maksud Mbak?" Ilayna menunggu jawaban dengan hati deg-deg-an.
"Jika anda mau memenuhi syarat, kami mungkin bisa mempertimbangkan untuk menerima anda kerja bersama kami."
"Ada syarat yang belum terpenuhi ya Mbak? Apa itu?"
"Penampilan. Apa bisa diubah ?" Wanita itu melihat Ilayna dengan seksama.
Tanpa menunggu waktu lama, Ilayna menggeleng, rupanya ia menolak tawaran itu.
“Jika begitu, Kami mohon maaf, mungkin anda dibutuhkan di tempat lain. Bukan di sini.” kata pewawancara media panru news.
“Ohh. Mungkin.” katanya singkat.
Sesaat kemudian, Ilayna pamit dan berlalu dari tempat itu.
“Masih ada media sekolot itu.” geramnya dengan suara tertahan, “itu media atau mau peragaian busana muslimah?”
Dua kantor media yang telah ia datangi, memberikan kesempatan bersyarat pada gadis itu, harus berhijab. Pihak media melihat potensi pada Ilayna saat wawancara berlangsung, tetapi mereka tidak mendapatkan keserasian pada penampilannya. Peluang pun diberikan. Namun, sayangnya kesempatan bersyarat ditolak mentah-mentah oleh jebolan FIB UI jurusan sejarah itu.
“Cari kerja, ya?” tanya seseorang tiba-tiba yang berdiri di hadapan Ilayna.
Ilayna mendongkakan kepala pada seseorang yang muncul tiba-tiba di depannya.
“Sekarang memang susah nyari kerja, apalagi bagi orang yang belum berpengalaman, ya, kayak kamu ini.”
Lelaki yang tidak dikenali Ilayna itu bak iklan lewat. Sekejap dan berlalu. Ilayna pikir lelaki itu mungkin akan menawarkannya sebuah pekerjaan, tapi, nyatanya tidak. Ilayna bangkit menuju peron menanti kedatangan kereta.
***
Banyak hal yang ia lalui, berbagai kejadian yang ia lihat, menampilkan betapa lemahnya perempuan, semudah itu lelaki mencabik-cabik kehidupan mereka. Bahkan lelaki yang di panggil ayah sekalipun.
"Nih," Ilayna membentangkan artikel di hadapan Alma.
"Kenapa?" Alma melihat artikel di depannya.
"Enggak nyangka, Kan? ada Ayah, yang enggak punya hati. Nama saja manusia tapi kelakuan iblis." Ilayna melepas amarah dengan menghentak meja di depannya.
"Aku pun enggak habis pikir. Sanggup lelaki itu menjual puterinya, hanya demi memenuhi hasratnya untuk tetap berjudi, Naudzubillah." Alma mengamitkan, sampai di ketoknya meja berulang kali.
"Spesies lelaki bergelar Ayah, rata-rata membawa bencana, "
"Oh, tidak. Untuk pernyataanmu yang itu, aku enggak setuju. Abahku baik, bahkan teramat sangat." Sanggah Alma.
Alma menolak persepsi Ilayna. Ilayna keliru jika memukul rata semua Ayah seperti Ayah yang sudah terlanjur terkonsep dalam sketsa kepalanya.
***
Mengundi nasib di kantor media masa ke-7. Ia berharap kali ini tidak kecewa lagi akibat ditolak. Rezeki Ilayna ternayata bersama Frekwensi News. Ilayna menemukan sebuah media masa yang sesuai keinginannya,
“Rabu besok, kamu boleh mulai bekerja, selamat datang dan selamat bergabung. Nanti ada namanya Mbak Yol, dia akan bimbing kamu, jika enggak ngerti, cari Mbak Yol. Sampai sini, ada yang mau ditanyakan?"
"Untuk sementara cukup. Senang bergabung di tempat ini, Aku akan bekerja sebaik mungkin, mohon arahannya." pinta Ilayna, "hmm, satu lagi pakaianku enggak ada masalah, kan?"
Seketika wanita yang mewawancarai Ilayna tertawa kecil. Ia lalu menunjuk penampilannya sendiri.
"Look. Apakah berbeda denganmu? Enggak kan? jadi enggak ada masalah," tutup wanita itu.
Sambil berjabat tangan, Ilayna resmi bergabung bersama media Frekwensi News, sebuah media yang baru berdiri delapan tahun. Ilayna diserahkan kepada seorang staf bernama Yolin, untuk digembleng mengenali segala aturan, visi misi tempat kerja barunya itu. Ia tidak sabar untuk memulai pekerjaannya sebagai seorang Jurnalis professional.
Alma turut gembira mendengar kabar bahagia itu. Meskipun saat ini intensitas pertemuan mereka tidak seperti dulu saat duduk di bangku kuliah, yang hampir tiap saat bertatap muka, tapi, keduanya berusaha agar meluangkan waktu untuk sharing melalui telepon, tentang kejadian yang mereka lalui, ataupun sekadar berbincang melepaskan stres.
***
Berkali-kali Ilayna berputar di depan cermin. Mencermati penampilannya, ia ingin terlihat perfect di hari pertamanya bekerja. Pilihannya jatuh pada blus lengan pendek berwarna orange bata dengan sedikit aksen di dada dan pants abu basah. Ia terlihat begitu cantik, apalagi rambutnya yang bergelombang itu baru saja ia warnai dengan tren warna golden ombre setelah potong rambut kemarin.
Bukan hanya terkejut, hampir saja Arif kena heart attack ketika Ilayna duduk di meja makan dengan penampilan barunya. Arif beristigfar dalam hati, ia tahu jika pagi ini ia menegur, maka akan panjang lagi ceritanya. Lelaki itu coba menahan diri.
"Malam nanti, Ayah tunggu." katanya singkat.
Ilayna mendengar acuh tak acuh, ia terus menikmati makanannya. Arif berangkat lebih dahulu, lalu beberapa menit kemudian diikuti Ilayna. Ilayna mengambil rute KRL dari stasiun Jakarta kota ke stasiun kebayoran lama.
"Lega, tepat waktu." Ilayna bernapas lega, sesaat mendaratkan diri pada tempat duduk kereta.
Hijaz merasa suara itu tidak asing, ia menoleh seketika, benar saja itu gadis yang beberapa kali ia jumpai di stasiun kereta sejak beberapa bulan terakhir. Sebisa mungkin ia duduk menyamping agar gadis itu tidak menyadari keberadaannya. Penampilan baru Ilayna memang berbeda, tapi Hijaz dapat mengenalinya. Hijaz tahu, jika gadis itu melihatnya, pasti akan menambah keruh situasi.
Kereta melaju hingga tidak terasa stasiun kebayoran sudah depan mata. Ilayna bergegas keluar dari gerbong, tanpa sadar id card-nya terjatuh. Hijaz melihatnya, dan secepat mungkin mengikuti arah Ilayna. Selama dalam kereta Hijaz berhasil menyembunyikan diri, tapi, pada akhirnya ia juga yang harus menemui gadis yang langkahnya mulai menjauh. Jika bukan karena mengembalikan id card, Hijaz sedang tidak mood untuk berdebat, ia tahu gadis itu pasti masih akan mengungkit cerita lama yang terjadi lalu.
"Bisa enggak, kalo enggak lalai?"
Ilayna menatap lelaki yang mencegat langkahnya.
"Oh, kamu lagi, kenapa setiap kali aku mengejar waktu-waktu penting kayak gini, selalu saja ada muka ini lagi." Ilayna menghembus pelan dan berat.
"Mungkin udah takdir. Nih ambil, " Hijaz memberikan Id card, "harap ini bisa bayar kelalainku menumpahkan kolak waktu itu, deal?"
Ilayna menyambar id card, meskipun wajahnya terlihat belum puas karena mengingat pertemuan yang tidak menyenangkan itu, tapi ia harus berterima kasih karena telah ditolong.
"Ok. Ilayna," Hijaz berlalu terburu-buru.
Nama yang bagus, sesuai orangnya katanya dalam hati, Hijaz tersenyum tipis. Ia harus mengakui kelebihan fisik gadis yang ada di hadapannya itu.
Next Part.... ke KBM App ( Judul: Wajah dari tanah yang jauh)
Komentar
Posting Komentar