Wajah dari tanah yang jauh

        Frekwensi napas ilayna meningkat akibat berlari ke lantai tiga melaui tangga. Ia tidak lagi menunggu lift terbuka.

 

      (Wajah dari tanah yang jauh)

       Part 21. 


        "Dikejar hantu atau penagih hutang?"

 

       "Mana ada hantu pagi gini Mbak, emang muka aku ada tampang muka tukang hutang?" Ilayna masih mengatur masuk keluar napasnya.

 

       "Halah, bercanda. Hari pertama kerja, Ok, bagus, enggak telat, semoga jadi awal yang baik di sini."

 

        Yolin menyerahkan beberapa file pada Ilayna. Sebagai uji coba pertama, Ilayna akan mengisi artikel di rubrik hiburan. Ilayna menerima perintah Yolin.      

 

        Ilayna akan turun meliput beberapa pagelaran fashion tanah air, jika artikelnya mendapat respon yang baik, maka tidak menutup kemungkinan ia juga akan disodorkan meliput konser Katty Perry bulan April 2018 nanti.

 

         Partner kerja Ilayna adalah Yongki dan Sisil. Keduanya akan bergantian ketika meliput di lapangan. Mereka saling membantu satu sama lain. Apalagi Yongki, Ia rupanya jatuh hati pada pandangan pertama. Wajah cantik, dengan proporsi tubuh yang ideal, memang membuat Ilayna menawan. Bahkan menurut teman-teman kerja, penampilan Ilayna lebih cocok jadi selebriti dibandingkan menjadi seorang Jurnalis. Hanya saja kalau dari kemampuan menganalisis suatu berita, kemampuan Ilayna tidak diragukan sejawatnya di Frekwensi News.

 

 

***

       Arif tidak mengetahui puterinya itu kini bekerja di sebuah media cetak sebagai Jurnalis. Ilayna masih diberikan masa uji coba hingga beberapa waktu ke depan. Jika ia berhasil menyelesaikan setiap tantangan yang diberikan maka ia akan direkrut menjadi jurnalis tetap di frekwensi News.

 

        Beberapa minggu belakangan Arif memperhatikan, setiap hari puterinya akan keluar rumah, terkadang balik lewat isya. Arif khawatir puterinya itu melakukan perkara yang tidak baik di belakangnya, apalagi jika sampai membuat malu nantinya.

 

        Arif mengetuk pintu kamar Ilayna "Ayna, Ayah mau bicara."

 

       Ilayna melangkah keluar menuju ruang kerja Ayahnya. Lelaki itu sudah menunggunya di sana.

 

       "Ayah mau, Senin depan, Ayna ikut Ayah ke kantor." Arif membuka beberapa file dan menyerahkan pada Ilayna.

 

        Gadis itu menatap file yang diberikan, membuka lembar demi lembar.

 

       "Ayah, bermaksud, Ayna kerja di tempat Ayah? Enggak. Ayna punya life sendiri." Ilayna menutup file dan meletakkan kembali di meja.

 

       "Life apa? Hari-hari Ayah perhatikan keluar masuk rumah, entah kemana, buat apa? Itu Life namanya?

 

        "Ayah pernah enggak nanya  ke Ayna. Ayna maunya apa? Enggak. Ayah hanya mau semua ikut apa yang Ayah katakan, Ayah enggak pernah pikir perasaan Ayna!"

 

        "Yang Ayah lakukan selama ini, itu untuk Ayna, kebaikan Ayna."

 

        "Kebaikan apa Ayah? Ayah rasa, Ayah sudah cukup baik memberikan kehidupan selama ini pada Ayna? Enggak."

 

         "Ayah hanya ingin menjagamu, Ayna. Kamu amanah bagi Ayah."

 

          Ilayna menolak peryataan Ayahnya. Ia tidak merasa apa yang Ayahnya lakukan selama ini adalah sebuah pengorbanan.

 

          "Baiklah, Ayna akan ikut kata Ayah, Ayna akn kerja di tempat manapun yang Ayah perintahkan, tapi dengan syarat."

 

           Sekarang Arif yang terjepit di situasi simalakama. Syarat Ilayna berat. Puterinya itu meminta sesuatu yang sulit untuk Arif wujudkan.

 

           "Kalau Ibu masih hidup, sekarang Ibu di mana? Kalaupun sudah meninggal, bawa Ayna ke sana. Dua belas tahun, Ayna harus menahan kerinduan. Ayah biarkan Ayna begitu saja. Dulu, Ayna memang enggak paham, tapi Ayna sudah besar, Ayna bukan lagi anak kecil seperti dua belas tahun lalu. Itu yang Ayah lupa. Dan hari ini Ayna mengingatkan Ayah."

 

          Hentakan pintu begitu keras saat Ilayna meninggalkan ruang kerja Arif. Air mata yang dari tadi Ia tahan di depan Ayahnya, tidak mampu lagi ia bendung. Tangisannya pecah, ia berusaha menutup suaranyaa dengan bantal. Hingga ia tertidur saking lelahnya menangis.

 

          Kini, Pilihan ada pada Arif. Ilayna menyerahkan  keputusan bulat padanya. Cukup dengan memenuhi syarat yang ia bagi. Arif sudah menyangka Ilayna tidak akan membuka setiap hadiah ulang tahun yang ia berikan. Padahal jawaban itu sudah ada pada kado ulang tahun Ilayna Oktober tahun lalu.

 

         Arif berat untuk berbicara langsung, itu sebabnya jawaban atas pertanyaan Ilayna ia berikan dalam bentuk kado, tapi, sayangnya Ilayna tidak membuka bingkisan yang ia berikan itu.

 

        Arif butuh bantuan Sri. Mungkin dengan Sri, Puterinya itu bisa menerima segala kenyataan yang harus ia telan.  

                                                                  ***

             Atap teduh baru saja selesai menggelar kegiatan makan gratis untuk dhuafa ada sekitar 200 kotak makanan yang dibagikan ke-3 rumah dhuafa di kawasan Jakarta Barat. Ini kegiatan pertama Nicole bersama para volunteer atap teduh. Alma mengajaknya, setelah sebelumnya telah berkonsultasi dengan dokter Hijaz. Ekspresi bahagia tidak lepas dari wajah Nicole saat membagikan makanan. Ia juga tidak mengeluh lelah, padahal jarak rumah dhuafa yang satu ke tempat lainnya lumayan memakan waktu, tapi, Nicole justru menikmati harinya itu.  

 

              "Kak Alma, sudah lama kenal Kak Ayna?" tanya Nicole tiba-tiba.

 

            "Kak Alma kenal dia sejak masuk kuliah, jadi sekitar empat tahun lebih. Wahh, Nicole sudah rindu Kak Ayna ya? Nanti kalau ada waktu, Kak Alma akan ajak dia ke atap teduh, atau kalau dia mau, nanti kita ajak juga dia sekalian pas ada kegiatan lain."

 

            "Kak Alma kenal Maminya, atau Ibunya?"

 

            "Kenapa Nicole tiba-tiba tanya Ibunya Kak Ayna? Nicole kenal atau pernah jumpa?

 

            " Tapi enggak tahu juga, mungkin Nicole yang terlalu banyak berkhayal."

 

           "Kak Alma sendiri enggak pernah ketemu Ibunya. Gini aja, kalau Kak Ayna datang lagi, Nicole tanya langsung ke dia."

 

           Nicole mengangguk.Ia tersenyum kecil, hingga Alma yang melihat perkembangan kesehatan Nicole turut bahagia. Tidak ada lagi amukan yang Nicole tunjukan beberapa waktu terakhir. Kondisinya cukup stabil.

 

           Alma merasa ada yang aneh. Nicole bukanlah seseorang yang mudah akrab dengan orang lain apalagi baru pertama kali bertemu. Bahkan ia bisa bertanya hal-hal yang begitu privasi tentang Ilayna, yang belum tentu ia tanyakan pada orang yang sudah ia kenal lebih dahulu, seperti padanya atau pada volunteer lainnya di atap teduh 18. Alma curiga ada hal lain yang masih dirahasiakan Nicole dan barangkali ada kaitannya dengan Ilayna.

       

          Sebelumnya Nicole berniat tidak akan bercerita tentang wanita yang wajahnya persis Ilayna, tapi ia tahu, setelah ia bertemu Ilayna ia harus menunaikan pesan terakhir wanita yang dulu menolongnya.

 

          "Nicole enggak punya apa-apa untuk bisa menebus semuanya, tapi Nicole janji, pesan tante Khiriah akan Nicole sampaikan pada Kak Ayna, apapun risikonya, Nicole akan terima, sekalipun Kak Ayna akan benci pada Nicole." Lirihnya.

 

          Nicole senang melihat Alma, Dian, dan Lala. Di mata Nicole mereka adalah pahlawan. Apalagi Nurmala, baginya bagai seorang peri, lalu Khiriah, yang sampai mati takkan ia lupakan pengorbanannya. Nicole lalu memegang kepalanya, berbeda.

 

         "Kak Alma, Kalau Nicole mau pakai penutup kepala kayak kak Alma, boleh enggak?"

 

          Alma terdiam sesaat. Ia sedang menyusun kata untuk memberi jawaban pada Nicole.

 

          "Nicole masih ingat wajah biarawati, ia juga menutup kepalanya. Hanya saja sedikit berbeda dengan penutup kepala yang Kak Alma pakai."

 

          Alma menjelaskan perbedaan kain penutup kepala seorang muslimah dengan seorang biarawati, meskipun kedua-duanya adalah perintah di masing-masing agama, tetapi mengikutinya adalah bentuk ketaatan kepada Tuhan.

 

          "Jadi, kalau begitu, Nicole dan Kak Ayna, kita enggak termasuk hamba yang taat?"

 

Next Part...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memetik Ibrah disebalik Drama

Memerik Ibrah di sebalik drama, Scene Akhir Andai Itu Takdirnya

Review book : Andai Itu takdirnya